Passion yang Mengarahkan Saya

Ricky Suhendar, Head of Integrated Marketing Samsung Indonesia, mengidentifikasi keunggulan dirinya dengan sangat simpel. “Saya mempunyai karakter kompetitif, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun,” kata Ricky.

Ricky mengasah karakter kompetitif terutama di lingkungan pekerjaannya sendiri, termasuk ketika bergabung dengan PT Amerta Indah Otsuka dengan posisi terakhir sebagai Senior Product Marketing Manager. “Selama di Otsuka saya banyak dibimbing Presiden Direktur Yoshihiro Bando untuk selalu berkompetisi,” kata Ricky. Yoshihiro diakui Ricky sebagai pihak yang banyak memberinya masukan, ilmu dan motivasi. “Berkompetisi adalah satu-satunya jalan, jika tidak ingin stuck,” kata Ricky menirukan ucapan Yoshihiro.

Ricky lahir di Garut, 5 Januari 1976, dan menamatkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor dan Universitas Trisakti. Ia memiliki kredo sendiri sebagai seorang profesional. “Dalam bekerja saya selalu memikirkan bagaimana bisa mengkontribusikan suatu ide untuk meningkatkan kualitas bisnis perusahaan,” kata Ricky. Menurut Ricky, ide terbaik selalu lahir dari seseorang yang memiliki passion pada apapun yang sedang dikerjakannya. “ Saya pikir, saya bisa berhasil karena saya punya passion. Banyak orang yang bekerja mati-matian karena tuntutan perusahaan atau kewajiban, tapi saya tidak begitu,” kata Ricky.

Sesuatu yang mengarahkannya, adalah passion tersebut, yang membuatnya bekerja dengan senang hati, dan menikmati setiap detail dalam pekerjaannya. Dengan passion pulalah, Ricky berhasil menetapkan standar yang tinggi yang mungkin sulit dilewati para penerusnya di Otsuka dimana Ricky membesut kampanye untuk merek Soyjoy dan Pocari Sweat. Bahkan Belum lama ini, Ricky terus bergerak dan kini bergabung dengan Samsung Indonesia sebagai Head of Integrated Marketing. “Saya selalu tertantang untuk melakukan suatu hal yang baru,” kata Ricky.

Di Otsuka, Ricky sukses membesut campaign untuk Soyjoy yang membawa nuansa baru aktifitas digital marketing di Indonesia. Selain Soyjoy, Ricky juga adalah pria dibalik sukses Pocari Sweat di Indonesia, menjadikannya sumber daya manusia yang unggul di perusahaan joint venture Indonesia-Jepang itu.

Meski masa depannya di Otsuka sudah terjamin, Ricky memutuskan hijrah ke Samsung. “Saya butuh tantangan baru,” katanya. Ia tidak melihat perbedaan tipe industri akan menghambatnya untuk kembali berprestasi. “Semua gagasan terbaik bersumber dari insight konsumen,” kata Ricky. Karena itulah, tak jarang, Ricky berperan seperti seorang planner yang sering melempar pertanyaan-pertanyan di account Twitter-nya untuk mendapatkan consumer insight. “Komentar di Twitter lebih real dan lebih jujur, dan sering kali memberi saya inspirasi merancang campaign,” aku Ricky.

Lebih dari itu, Ricky melihat kalau consumer insight adalah basis dari segala-galanya. “Saat ini merek sangat tergantung pada konsumen, jadi sangat penting untuk melakukan aktivitas marketing berbasis consumer insight,” katanya. Kadang-kadang masalahnya, kata Ricky, merek terlalu percaya diri bahwa konsumen akan mendengarkan mereka. “Konsumen akan memiliki penilaian lain dan mereka akan memilih dari alasan lainnya pula,” kata Ricky.

Salah satu tahun paling bersinar bagi Ricky adalah tahun 2010 dimana ia terpilih sebagai salah satu marketer terbaik versi sebuah majalah. Di tahun yang sama, Ricky menciptakan terobosan digital campaign untuk Pocari Sweat yaitu “Ionopolis” yang berhasil melibatkan lebih dari 95 ribu orang. “Memang itulah yang menjadi prinsip saya. Dimanapun saya bekerja, saya harus memberikan kontribusi yang signifikan untuk perusahaan, kalau tidak, lebih baik saya keluar,” katanya.

Digembleng di beberapa perusahaan multinasional, Ricky mengaku keberhasilannya juga turut ditentukan self determination-nya sendiri untuk tidak mau menjadi karyawan biasa-biasa saja. “Saya juga termasuk orang yang ingin segala sesuatunya dilakukan dengan cepat. Saya tidak suka menunggu dan kalau memiliki keinginan, saya selalu ingin segera mendapatkannya.”

Be Sociable, Share!
No comments yet.

Leave a Reply