Empat Sisi Leonard Theosabrata

Leonard Theosabrata, Director Accupunto Indonesia sedang berbicara mengenai arah baru industri kreatif Indonesia http://bit.ly/TRbQFY

Ketika Coen Chair meraih penghargaan sebagai Best Dining Chair dari Wallpaper Design Award 2009, Leo Theosabrata belum lama merevitalisasi Accupunto. Leonard kembali ke Indonesia pada tahun 2002, setelah menyelesaikan pendidikannya di Amerika Serikat dan lalu membenahi bisnis furnitur milik ayahnya, Yos.

Awalnya, Leo mempelajari graphic design di Art Institute of Houston di Texas, tapi kemudian pindah ke Art Center College of Design di Pasadena, California. “Ternyata saya tidak bahagia menjadi seorang desainer grafis,” kata Leo kepada Inspirasi.

Turning point itu kemudian yang membawa bisnis furnitur keluarganya mendunia. Ia berkolaborasi dengan Yos, dan membawa kelahiran kembali pada bisnis furnitur mereka. “Saya terjun langsung pada saat itu, sampai belajar ngelas bersama para tukang,” cerita Leo. Menurut Leo, banyak dari teknik manufaktur perusahaan keluarganya saat itu yang harus dibenahi, termasuk cara-cara melengkungkan bahan metal, sampai adopsi bahan berbasis plastik.

Setelah manufaktur mulai berjalan dengan rapi, Leo juga membenahi strategi marketing-nya. “Dulu, furnitur di keluarga saya dipandang sebagai mass product business,” kata Leo. Leo datang dan menjalankan strateginya sehingga dikenallah Accupunto seperti yang sekarang ini.

Kursi Accupunto “Coen” yang meraih penghargaan internasional.

Accupunto menyeruak sebagai merek Indonesia yang bisa berbicara di pasar negara barat seperti Eropa dan Amerika, setelah melalui perjalanan panjang–yang belum berhenti sampai sekarang. “Saya rasa, kami cukup terbantu karena awalnya kami memiliki koneksi dengan pameran internasional,” kata Leo.

Sebagai sebuah produk yang berbasis penciptaan, desain yang dibuat Leo berhasil meraih penghargaan internasional yang kemudian menjadi credential yang bermakna bagi Accupunto. Penghargaan pertama diraih di Indonesia, dan diikuti dengan penghargaan-penghargaan lain dari Jepang dan Jerman.

Leo menyadari sebagai sebuah perusahaan lokal dengan skala kecil, adalah sebuah pekerjaan berat untuk membawa Accupunto menjadi merek global. Leo lalu mengambil langkah besar dengan menggandeng desainer Michael Young untuk bergabung dengan Accupunto. “Suatu ketika saya melihat ada kebutuhan agar kita berkembang, demi membawa Accupunto memiliki kapasitas untuk menjadi merek yang credible,” kata Leo.

Saat itulah Accupunto memutuskan untuk meng-hire Michael Young, salah satu dari top product designer di dunia.

Outlet Accupunto di Grand Indonesia

Ketika Accupunto mulai disejajarkan dengan merek dunia lainnya, pembenahan juga kemudian dilakukan pada sistem distribusinya. “Kita tinggalkan model distribusi dimana ada perusahaan tertentu yang membawa Accupunto ke negaranya. Kita putuskan untuk membuat jalur distribusi sendiri,” kata Leo. Untuk pasar Amerika dan Eropa, Accupunto sudah memiliki perusahaan distribusinya sendiri, dan akan disusul dengan China dan Australia. “Dengan perwakilan resmi di negara tujuan, kita bisa membesarkan merek Accupunto seperti yang kita inginkan.”

Perjuangan 8 tahun terakhir Leo membesarkan Accupunto antara lain adalah untuk mengurangi pertanyaan berikut: mengapa produk made in Indonesia harganya mahal? Branding, kata Leo adalah untuk membuat publik melihat secara obyektif terhadap integritas merek Accupunto. “Masalahnya bukan mahal atau tidak, tapi harga jual adalah yang harus dibayar untuk menikmati kredibilitas merek tersebut,” katanya.

Mau dari Afrika atau dari Indonesia kalau mahal ya karena memang (layak untuk) mahal.

Sisi-sisi Lain

Insting bisnis Leo yang sudah terasah kemudian mengarahkannya untuk mendirikan The Goods Dept, tiga tahun yang lalu. “Saya melihat ada peluang yang luar biasa di industri retail, terutama industri retail yang fast moving seperti clothing,” kata Leo. The Goods Dept adalah antisipasi Leo untuk menangkap konsumerisme yang lebih cepat berganti dan menurutnya harus lekas ditangkap sebelum hilang.

The Goods Dept dijalankan dengan kurasi yang cukup tegas bagi para produsen clothing lokal. “Kita ingin mengajak kalangan anak-anak muda memakai buatan lokal dengan kualitas yang baik. Kita tidak menjual produk impor untuk mereka,” kata Leo.

Meski demikian, seperti diakui Leo, The Goods Dept adalah tantangan tersendiri. “Banyak yang mau meniru konsep kami, tapi menurut saya ini adalah suatu hal yang sulit dilakukan tanpa pemahaman terhadap industri itu sendiri.”

Mendirikan The Goods Dept membawa saya teman-teman dan juga musuh-musuh.

The Goods Dept berjalan dengan baik, dan telah membuka dua departemen store dan 4 restoran hanya dalam waktu tiga tahun. Menurut Leo, The Goods Dept besar karena spirit komunitas, dan ia paham betul bagaimana berbicara dengan pasar.

Setelah menangkap dan memetakan pasar untuk industri kreatif, Leo kemudian mendirikan www.whiteboardjournal.com. Ini adalah portal yang fokus pada gaya hidup dan desain. “Content-nya tidak hanya tentang hal-hal yang keren, tapi juga isu-isu sosial karena saya merasa audience-nya sudah sangat kritis dan berpengetahuan.”

Sisi Leonard berikutnya adalah Studio 1212, sebuah digital agency. Bersama timnya, Leonard mengelola social media, activation dan maintain website dengan salah satu klien adalah merek Nike.

Leonard melihat industri kreatif Indonesia memerlukan suatu arahan yang baru yang lebih berkelanjutan. “Sayang sekali kalau kemampuan kreasi pelaku industri kreatif yang sudah luar biasa, tidak dibarengi dengan platform yang baik,” katanya.

Be Sociable, Share!

, ,

One Response to Empat Sisi Leonard Theosabrata

  1. ajir January 7, 2014 at 7:44 pm #

    impian saya, bercita-cita menjadi seorang yang hidup dari kreatifitas.

    semoga kelak mampu sesuksesmu bang.

Leave a Reply